September 22, 2014
New Cosmetics - Recommended!
Kemarin weekend, gw terima undangan married seorang teman kantor. Setelah sekian lama gw ga kondangan, akhirnya gw harus bersiap-siap rempong make up-an demi temen baik gw itu. Mulailah petualangan dengan mencari make-up, terutama foundation (foundie) yang lumayan awet dan cover up segala bentuk titik-titik hitam dimuka.
Kebetulan hari Minggu, hubby ngajakin cari sepatu buat kondangan karena sepatu lamanya udah pensiun. Iseng-iseng gw coba muter-muter di Matahari Pluit Village bagian kosmetik untuk cari-cari merk yang mungkin masuk budget di kantong. Sempat terpikir untuk beli Maybelline BB Cream aja, atau foundie Maybelline yang agak lumayan. Tapi gw ternyata terhenti di counter seberang Maybelline. Namanya Make Over. Sepintas ini merk kelihatan bagus banget. Gw kirain merk luar, tapi setelah cek dan ricek, ternyata pabriknya sama dengan Wardah. Mungkin versi premiumnya dari Wardah.
Secara penampilan, ini merk cukup menarik. Sama sekali ga keliatan kalau merk lokal. Packagingnya menarik, dan itemnya lumayan lengkap. Kebetulan beautician nya juga ramah. Pas gw bilang mau cari foundie yang lumayan, dia menawarkan 2 pilihan, Liquid or Creamy. Dengar-dengar dan baca-baca, Liquid lebih cocok untuk muka dengan kulit berminyak, karena hasilnya bisa matte. Sedangkan dengan Creamy, terkadang lebih cepat berminyak. Mbaknya cepat tanggap, langsung dia offer foundie Liquidnya. Dicobain di tangan, kok ga yakin warnanya bisa cover up. Akhirnya dia menawarkan di make-up aja sekalian. Gw pikir-pikir, emang lebih real kalo langsung make up. Jadi gw oke aja dia suruh gw duduk di meja make up, dan mulailah dia beraksi.
Pertama dia pakein gw Make Up Removal, setelah itu pakai Hydration Serum, sebagai primer make-up. Serum ini juga berfungsi sebagai face primer, supaya make up bisa bertahan lama. Kemudian baru pakai Ultra Cover Liquid Matt Foundation #03 Nude Silk. Trik dari beauticiannya, kalau untuk daerah T, harus dipakein lebih banyak supaya ga cepet berminyak. Dengan pemakaian agak lebih tebal, memang ternyata hasilnya cukup bagus. Muka terlihat lebih halus dan cerah. Mbaknya juga memakaikan gw Silky Smooth Translucent Powder #02 Rosy dengan brush supaya hasilnya lebih natural. Setelah itu sedikit menggunakan Face Contour Kit supaya ada shade di pipi. Overall cukup dengan 3 macam produk ini, hasilnya cukup memuaskan. Mbaknya menawari untuk penggunaan lipstick supaya muka tidak pucat, akhirnya gw pilih warna pink nude Ultra Shine Lipstick #13 Everlasting Kiss. Sepertinya ini warna baru, karena gw cek di catalog nya, belum ada.
Demi melihat penampilan yang cukup oke, dan ternyata harganya tidak mahal. Foundie harga IDR 119.000,- dan Lipstick seharga IDR 69.000,-. Quite cheap for a good result like this, akhirnya gw beli juga. Dan setelah sampai rumah, baru nyesel kenapa ga sekalian ngeborong Hydration Serum nya yang cuma seharga IDR 98.000,-. Ga apalah, nanti kalau jalan-jalan lagi, baru borong sekalian Face Contour Kit-nya IDR 105.000,-. For now, I'm happy for what I bought ^^
September 19, 2014
Surprisingly tired... Bored...
Last week I felt so confuse, and a bit upset with my condition. But in the other side, I believe that nothing in coincidence. I've got a great offer, but I can not take it. It's a pity actually, but maybe there's another way for me to reach something better.
Ok, leave it.
Akhir-akhir ini ke kantor rasanya cape sekali.
Mana harus bikin report terus-terusan, ya ampun Tuhaaann... this kinda bulshitt! Gue benci banget sama yang namanya laporan. Masih mendingan kalo laporan itu realistis, kalau cuma buat keren-keren, what for?
Percuma bikin report, kalau tiap saat hasil juga tidak diaplikasikan. Sama seperti meeting terus-terusan, tapi pada akhirnya solusi/keputusan yang ada juga cuma dianggurin. Trus ngapain repot-repot meeting yang never ending? I don't get it!
Today ada survey dari kantor. Anonim sih. Tapi intinya untuk cek dan ricek mengenai company. Gw jawab aja jujur. Menurut gw, yang namanya big company, sudah seharusnya punya standar yang jelas mengenai apapun. Gaji, fasilitas, tunjangan, karir, anything yang berhubungan dengan kesejahteraan karyawan/karyawati nya. Bukan cuma gedung besar aja yang dimodalin. Karena dengan pekerja yang sejahtera, bisa dipastikan 85% akan loyal. Sementara sisanya, pasti akan menjadi kutu loncat untuk karir ataupun tawaran yang mungkin lebih luar biasa. Who can blame them?
Perusahaan yang baik pasti akan menghargai karyawan/karyawatinya. Dengan adanya rasa dihargai, pekerja akan lebih terpacu untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik, yang pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan juga. Kalau ditanya kenapa banyak terjadi turn-over, sebenarnya permasalahan terbesar pasti ada di manajemen. Contohnya, karyawan yang kecewa dengan karirnya, kecewa dengan fasilitasnya, kecewa dengan gajinya, kecewa dengan job-desk yang serabutan tidak sesuai dengan deal awal, atau bahkan kecewa karena tidak adanya training yang tepat sehingga kemampuan tidak mengalami peningkatan.
Di beberapa divisi, terkadang apa yang diinginkan atasan, susah untuk diwujudkan karena atasan cenderung tidak mau tahu kesulitan bawahannya. Menganggap sepele masalah, tetapi juga tidak memberikan solusi yang tepat. Di tengah kebingungan-kebingungan seperti itu, tak ayal karyawan yang tidak mendapatkan pencerahan, memilih mundur dan mencari pekerjaan yang lain.
Jika memang pekerjaan itu tidak sesuai dengan personality kita, sebenarnya tidak cukup baik untuk dipertahankan. Tapi terkadang, manusia terikat dengan titel-titel yang menyertainya. Entah karena gengsinya, lokasinya, dan yang terpenting : gajinya. Some people meant to be an entrepreneurs, but the other actually fit to be workers. Untuk orang yang biasa bekerja dengan gaji yang rutin dan teratur, menjadi wiraswasta itu cukup berat. Banyak yang harus dipertimbangkan, misalnya biasa selalu pegang duit, trus nantinya jadi kadang banyak, kadang sedikit. Harus benar-benar pintar mengatur keuangan. Tidak semua orang 'lulus' dalam masalah mengatur keuangan.
Pada dasarnya, sebuah perusahaan yang menghargai para pekerjanya dengan selayaknya dan sesuai standar, umumnya bisa berkembang dengan sehat. Perusahaan dan para pekerjanya, dapat bersama-sama membangun situasi dan kondisi yang kondusif demi kemajuan bersama. Kegalauan-kegalauan itulah yang sekarang menyerang gw. Masih 3 bulan sebelum gw akhirnya cuti melahirkan dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dihilangkan dari pikiran gw.
September 5, 2014
Mencairkan Jamsostek, Ternyata Tidak Sulit...
Kemarin iseng-iseng mau coba mencairkan duit Jamsostek gw (sekarang BPJS) yang berasal dari kantor lama. Duitnya sih ga seberapa banyak, tapi lumayanlah buat tambahan beli baju hamil #eh. Kebetulan gw udah sesuai dengan persyaratannya, yaitu minimal sudah berhenti selama 5 tahun 1 bulan, sementara gw udah 7 tahun. Rencana pencairan ini juga karena gw denger dari saudara, kalau sekarang proses tersebut lebih mudah selama persyaratan dokumen sudah dipenuhi.
Yang ribetnya pada waktu itu justru malah mencari lokasi Jamsostek terdekat. Seingat gw, di arah daan mogot, dekat perempatan cengkareng ada. Tapi saat gw kesana, kok sudah closed. Bahkan gedungnya disewakan. Amsiong dah! Berbekal Goggle Maps, akhirnya ketemu yang dekat sana, yaitu Cabang Grogol. Karena cek nya hanya dari G-Maps, gw ga yakin lokasinya di sebelah kiri or kanan jalan. Ternyata gw kebablasan, tau-tau udah sampe perempatan Grogol. Luarrr biasaaa!!
Pantang menyerah, gw balik nyariin lagi. Akhirnya ketemu juga, dari arah CL disebelah kiri jalan. Pantas aja kaga ketemu, namanya udah ganti jadi BPJS. Hahaha...
Persyaratan yang diminta untuk pencairan tersebut tidak terlalu banyak, cukup :
- Kartu Jamsostek,
- Surat Paklaring (dan duplikatnya/copy),
- KK (dan duplikatnya/copy),
- KTP (dan duplikatnya/copy),
- Buku tabungan (dan duplikatnya/copy) jika ingin uangnya ditransfer.
Kemudian setelah semua lengkap, kita mengisi form yang diberikan disana. Nanti dokumen tersebut dikumpulkan oleh petugas untuk dicek kelengkapannya, dan diberikan nomer antrian. Berhubung gw lupa Buku Tabungan, terpaksa gw minta pencairan cash. Mbak Tellernya setuju setelah cek dana Jamsostek gw masih 'ga seberapa'. Akhirnya setelah menunggu sekitar 3 jam, kelar juga semua prosesnya. Jamsostek gw bisa diambil cash.
Lega juga, pendingan satu persatu berkurang... :)
Yang ribetnya pada waktu itu justru malah mencari lokasi Jamsostek terdekat. Seingat gw, di arah daan mogot, dekat perempatan cengkareng ada. Tapi saat gw kesana, kok sudah closed. Bahkan gedungnya disewakan. Amsiong dah! Berbekal Goggle Maps, akhirnya ketemu yang dekat sana, yaitu Cabang Grogol. Karena cek nya hanya dari G-Maps, gw ga yakin lokasinya di sebelah kiri or kanan jalan. Ternyata gw kebablasan, tau-tau udah sampe perempatan Grogol. Luarrr biasaaa!!
Pantang menyerah, gw balik nyariin lagi. Akhirnya ketemu juga, dari arah CL disebelah kiri jalan. Pantas aja kaga ketemu, namanya udah ganti jadi BPJS. Hahaha...
Persyaratan yang diminta untuk pencairan tersebut tidak terlalu banyak, cukup :
- Kartu Jamsostek,
- Surat Paklaring (dan duplikatnya/copy),
- KK (dan duplikatnya/copy),
- KTP (dan duplikatnya/copy),
- Buku tabungan (dan duplikatnya/copy) jika ingin uangnya ditransfer.
Kemudian setelah semua lengkap, kita mengisi form yang diberikan disana. Nanti dokumen tersebut dikumpulkan oleh petugas untuk dicek kelengkapannya, dan diberikan nomer antrian. Berhubung gw lupa Buku Tabungan, terpaksa gw minta pencairan cash. Mbak Tellernya setuju setelah cek dana Jamsostek gw masih 'ga seberapa'. Akhirnya setelah menunggu sekitar 3 jam, kelar juga semua prosesnya. Jamsostek gw bisa diambil cash.
Lega juga, pendingan satu persatu berkurang... :)
August 29, 2014
Perpanjangan Passport, Done!
Setelah sekian lama, akhirnya gw menyempatkan diri untuk mengurus passport yang uda hampir expired di bulan depan (September). Awalnya agak males-males juga ngurusin sendiri ke imigrasi, tapi setelah browsing sana-sini, nanya kanan-kiri, akhirnya gw putuskan untuk urus passport sendiri. Toh gw juga ga lagi buru-buru, pikir gw begitu. Lagipula setelah cek biaya c*lo (nuttttt-sensor) selesai dalam 4-5 hari itu bayar 600 ribu. Sementara kalo urus sendiri, biayanya per 2014 ini 355 ribu, untuk passport biasa. Untuk biaya lengkapnya, bisa cek disini : http://www.imigrasi.go.id/index.php/layanan-publik/paspor-biasa#masa-berlaku-dan-biaya.
Akhirnya gw coba daftar online dulu di link : http://ipass.imigrasi.go.id:8080/xpasinet/faces/InetMenu.jsp, menghemat waktu ceritanya. Sebelumnya (waktu liburan sekolah anak-anak di bulan Juli) gw sempat mencoba daftar online, ternyata ga dapat reply email dari imigrasi. Kali ini gw coba lagi, mengingat sekarang bulan 'biasa', bukan liburan, semoga bisa sukses pendaftaran onlinenya. Ternyata memang benar sesuai prediksi, pendaftarannya lancar jaya. Begitu submit langsung email notifikasi dari Imigrasi gw terima. Di notifikasinya tertulis kita harus bayar 355 ribu melalu setoran BNI dengan nomer sekian-sekian. Slip ini tinggal kita bawa aja ke BNI nya, mereka uda tau harus bagaimana. Nanti setelah dilakukan pembayaran, BNI akan kasi kita bukti pembayaran, dan bisa kita langsung klik link konfirmasi yang dikirimkan oleh email dari Imigrasi sebelumnya.
Setelah konfirmasi bukti pembayaran, kita bisa pilih tanggal kedatangan di Imigrasi yang diinginkan. Udah gitu aja, done proses pertama.
Akhirnya setelah dapat konfirmasi tanggal by email, berangkatlah gw pagi-pagi untuk urus ini passport. Sempet juga terbersit pikiran, ngurus passport ini bakalan sampe bubar makan siang, secara pembuatan awal di Imigrasi Jakarta Barat, lama banget. Antrinya panjang. Kali ini gw coba di Imigrasi Bandara Soetta, karena dekat dengan rumah. Tapi gw tetap ga yakin bakalan cepat, jadi gw sampe bawa bekal makan siang, kali-kali aja ngga bisa ditinggalin itu antrian buat cari makan.
Jam 7 kurang 15, gw sampe di kantor Imigrasinya. Dapat parkir ciamik, dibawah pohon yang gersang, tapi masih oke lah. Antrian sudah ada sekitar 15 orang. Lumayan pagi juga mereka, entah nyampai di Imigrasi jam berapa, mungkin jam 6 udah antri kali ya. Langsung gw cari tempat duduk sesuai urutan aja, jadi di bagian paking belakang. Ada enci-enci mau perpanjangan juga, nanya-nanya antrian dari mana, gw jawab antrian dari deket pos satpam, makin kesini makin belakang. Akhirnya malah kita ngobrol juga, ternyata mereka belum daftar online, jadi masih manual. Untuk manual dibatasi 70 orang, sementara untuk online sampai 100 orang. Karena gw datang pagi dan online, gw dapat antrian nomer 3. Not bad!
Tunggu punya tunggu, karena kantornya buka jam 8. Gw cek persyaratan gw dulu, sebenernya perpanjangan itu syaratnya ga rempong cukup sbb :
1. Akte kelahiran dan foto copy-nya
2. KK Keluarga dan foto copy-nya
3. KTP dan foto copy-nya. Jangan lupa, untuk KTP harus di foto copy di kertas A4, ga boleh dipotong.
4. Paspor lama dan foto copy-nya.
Ternyata setelah cek dan ricek, Akte Kelahiran asli ketinggalan dirumah. Duh, mati deh. Mana KTPnya gw copy tapi dipotong pula. Ya udah akhirnya ke fotocopy-an dan copy ulang untuk KTP nya.
Jam 8 pas, pintu dibuka dan dipanggil. Gw cepet dipanggil karena antrian no.3. Langsung menuju loket untuk menyerahkan bukti transfer BNI. Kemudian dikasih nomer untuk antri di ruang cek dokumen. Sekitar 10 menit kemudian, gw dipanggil. Gw serahkan semua dokumen, dan bilang dengan jujur ke Ibu yang cek dokumen, kalau Akte gw ketinggalan. Ternyata dengan santainya dia bilang gak apa-apa. Thanks God!
Proses cek kelar dalam 5 menit. Kemudian dia info untuk antri foto jam 9. Sambil menunggu, ternyata gw sempat beli minum juga di kantin mereka. Tapi mahal Bo! Cuma teh kotak aja dijual 5000. Hahaha... namanya juga aji mumpung ya. Sekali-sekali ya sudahlah...
Jam 9 lebih 10 menit gw dipanggil buat foto. Setelah sedikit retouch, akhirnya sesi foto dimulai. Si Ibu sempat nanya, mau diulang lagi ga. Gw ga pake malu-malu minta kaca supaya rambut bisa ditata. Si Ibu baik juga nyariin kaca, hahaha... Dan sesi shot kedua dilakukan. Hasilnya mendingan, walopun ngga bagus-bagus amat. Ya gw lagi gendut karena hamil, apa boleh buat. Akhirnya sesi foto selesai, gw diminta balik ambil passport 3 hari dari hari itu. Passport, done!
Akhirnya gw coba daftar online dulu di link : http://ipass.imigrasi.go.id:8080/xpasinet/faces/InetMenu.jsp, menghemat waktu ceritanya. Sebelumnya (waktu liburan sekolah anak-anak di bulan Juli) gw sempat mencoba daftar online, ternyata ga dapat reply email dari imigrasi. Kali ini gw coba lagi, mengingat sekarang bulan 'biasa', bukan liburan, semoga bisa sukses pendaftaran onlinenya. Ternyata memang benar sesuai prediksi, pendaftarannya lancar jaya. Begitu submit langsung email notifikasi dari Imigrasi gw terima. Di notifikasinya tertulis kita harus bayar 355 ribu melalu setoran BNI dengan nomer sekian-sekian. Slip ini tinggal kita bawa aja ke BNI nya, mereka uda tau harus bagaimana. Nanti setelah dilakukan pembayaran, BNI akan kasi kita bukti pembayaran, dan bisa kita langsung klik link konfirmasi yang dikirimkan oleh email dari Imigrasi sebelumnya.
Setelah konfirmasi bukti pembayaran, kita bisa pilih tanggal kedatangan di Imigrasi yang diinginkan. Udah gitu aja, done proses pertama.
Akhirnya setelah dapat konfirmasi tanggal by email, berangkatlah gw pagi-pagi untuk urus ini passport. Sempet juga terbersit pikiran, ngurus passport ini bakalan sampe bubar makan siang, secara pembuatan awal di Imigrasi Jakarta Barat, lama banget. Antrinya panjang. Kali ini gw coba di Imigrasi Bandara Soetta, karena dekat dengan rumah. Tapi gw tetap ga yakin bakalan cepat, jadi gw sampe bawa bekal makan siang, kali-kali aja ngga bisa ditinggalin itu antrian buat cari makan.
Jam 7 kurang 15, gw sampe di kantor Imigrasinya. Dapat parkir ciamik, dibawah pohon yang gersang, tapi masih oke lah. Antrian sudah ada sekitar 15 orang. Lumayan pagi juga mereka, entah nyampai di Imigrasi jam berapa, mungkin jam 6 udah antri kali ya. Langsung gw cari tempat duduk sesuai urutan aja, jadi di bagian paking belakang. Ada enci-enci mau perpanjangan juga, nanya-nanya antrian dari mana, gw jawab antrian dari deket pos satpam, makin kesini makin belakang. Akhirnya malah kita ngobrol juga, ternyata mereka belum daftar online, jadi masih manual. Untuk manual dibatasi 70 orang, sementara untuk online sampai 100 orang. Karena gw datang pagi dan online, gw dapat antrian nomer 3. Not bad!
Tunggu punya tunggu, karena kantornya buka jam 8. Gw cek persyaratan gw dulu, sebenernya perpanjangan itu syaratnya ga rempong cukup sbb :
1. Akte kelahiran dan foto copy-nya
2. KK Keluarga dan foto copy-nya
3. KTP dan foto copy-nya. Jangan lupa, untuk KTP harus di foto copy di kertas A4, ga boleh dipotong.
4. Paspor lama dan foto copy-nya.
Ternyata setelah cek dan ricek, Akte Kelahiran asli ketinggalan dirumah. Duh, mati deh. Mana KTPnya gw copy tapi dipotong pula. Ya udah akhirnya ke fotocopy-an dan copy ulang untuk KTP nya.
Jam 8 pas, pintu dibuka dan dipanggil. Gw cepet dipanggil karena antrian no.3. Langsung menuju loket untuk menyerahkan bukti transfer BNI. Kemudian dikasih nomer untuk antri di ruang cek dokumen. Sekitar 10 menit kemudian, gw dipanggil. Gw serahkan semua dokumen, dan bilang dengan jujur ke Ibu yang cek dokumen, kalau Akte gw ketinggalan. Ternyata dengan santainya dia bilang gak apa-apa. Thanks God!
Proses cek kelar dalam 5 menit. Kemudian dia info untuk antri foto jam 9. Sambil menunggu, ternyata gw sempat beli minum juga di kantin mereka. Tapi mahal Bo! Cuma teh kotak aja dijual 5000. Hahaha... namanya juga aji mumpung ya. Sekali-sekali ya sudahlah...
Jam 9 lebih 10 menit gw dipanggil buat foto. Setelah sedikit retouch, akhirnya sesi foto dimulai. Si Ibu sempat nanya, mau diulang lagi ga. Gw ga pake malu-malu minta kaca supaya rambut bisa ditata. Si Ibu baik juga nyariin kaca, hahaha... Dan sesi shot kedua dilakukan. Hasilnya mendingan, walopun ngga bagus-bagus amat. Ya gw lagi gendut karena hamil, apa boleh buat. Akhirnya sesi foto selesai, gw diminta balik ambil passport 3 hari dari hari itu. Passport, done!
August 11, 2014
Minggu Pertama dengan ART plus Bad Service Nex TV Kabel
Memang nikmat punya ART. Pulang kerja lihat rumah bersih dan rapi, wuih rasanya luar biasaaa..... *senyum-senyum terus*
Sekarang udah mulai bisa sekalian menyusun daftar menu sebulan. Jadi bisa bawa bekal ke kantor juga. Lumayan lah... Agenda pengiritan karena banyak pengeluaran juga sejak hamil.
Repotnya adalah hubby yang serba ga doyan. Dikasih makanan simpel, kek sayur bayam, sayur kangkung, tempe goreng, suka ga doyan. Jadi rempong juga ya bikinnya. Harus pikir baik-baik menu apa yang sekiranya si mbak bisa masak, dan hubby doyan.
Mengingat lagi hamil, gw harus cari menu yang 'menyehatkan'. Jadi sebisa mungkin menghindari gorengan. Tapi mbak ini perlu diuji duluan, bisa masak apa aja nih. Kalau memang enak, ya bolehlah diminta masak yang lebih ribet daripada sekedar oseng/tumis dan goreng.
Btw, mengenai masalah rumah, gw masih harus beli rak sepatu untuk merapikan ruang. Kemarin weekend sudah sempat nyicil beli kursi dan meja untuk teras. Satu persatu baru nih bisa dibenahi. Jadi tinggal bikin lemari baju dan kitchen set aja.
Rencana kedepan sih, "Ada barang tak terpakai, jual saja di olx.com". Target bersih-bersih rumah, jual spring bed (diganti yang single tapi 2 in 1). Trus jual sofa yang makan tempat itu, ke 3 seat atau 2-1 seat aja. Plus jual tv tabung LG yang belum rusak tapi gak kepake (yang ini harus dicoba nyalain dulu sih). Semoga bisa cepet beres sebelum dedeknya nongol.
Kebetulan seminggu ini tv kabel rumah sedang error. Pengalaman buruk dengan Nexmedia, suka ngerjain orang lain. Udah complain 3x, katanya teknisi diaturin kunjungan, eh ngilang aja ga ada kabar. Keterlaluan sekali. Dia pikir kita orang itu pengangguran, kerjaan cuma tunggu dia punya teknisi doang? Yeah, right! Seharusnya kalo emang udah diaturin kunjungan, sempat gak sempat, harus lah kasih kabar ke customer. Jangan main kabur aja. Emangnya dia doang yang punya tv kabel? Buruk memang Nexmedia ini ternyata. Kecewa berat. Pelayanan purna jualnya sungguh buruk, ga seperti iklannya yang muluk-muluk.
Sekarang udah mulai bisa sekalian menyusun daftar menu sebulan. Jadi bisa bawa bekal ke kantor juga. Lumayan lah... Agenda pengiritan karena banyak pengeluaran juga sejak hamil.
Repotnya adalah hubby yang serba ga doyan. Dikasih makanan simpel, kek sayur bayam, sayur kangkung, tempe goreng, suka ga doyan. Jadi rempong juga ya bikinnya. Harus pikir baik-baik menu apa yang sekiranya si mbak bisa masak, dan hubby doyan.
Mengingat lagi hamil, gw harus cari menu yang 'menyehatkan'. Jadi sebisa mungkin menghindari gorengan. Tapi mbak ini perlu diuji duluan, bisa masak apa aja nih. Kalau memang enak, ya bolehlah diminta masak yang lebih ribet daripada sekedar oseng/tumis dan goreng.
Btw, mengenai masalah rumah, gw masih harus beli rak sepatu untuk merapikan ruang. Kemarin weekend sudah sempat nyicil beli kursi dan meja untuk teras. Satu persatu baru nih bisa dibenahi. Jadi tinggal bikin lemari baju dan kitchen set aja.
Rencana kedepan sih, "Ada barang tak terpakai, jual saja di olx.com". Target bersih-bersih rumah, jual spring bed (diganti yang single tapi 2 in 1). Trus jual sofa yang makan tempat itu, ke 3 seat atau 2-1 seat aja. Plus jual tv tabung LG yang belum rusak tapi gak kepake (yang ini harus dicoba nyalain dulu sih). Semoga bisa cepet beres sebelum dedeknya nongol.
Kebetulan seminggu ini tv kabel rumah sedang error. Pengalaman buruk dengan Nexmedia, suka ngerjain orang lain. Udah complain 3x, katanya teknisi diaturin kunjungan, eh ngilang aja ga ada kabar. Keterlaluan sekali. Dia pikir kita orang itu pengangguran, kerjaan cuma tunggu dia punya teknisi doang? Yeah, right! Seharusnya kalo emang udah diaturin kunjungan, sempat gak sempat, harus lah kasih kabar ke customer. Jangan main kabur aja. Emangnya dia doang yang punya tv kabel? Buruk memang Nexmedia ini ternyata. Kecewa berat. Pelayanan purna jualnya sungguh buruk, ga seperti iklannya yang muluk-muluk.
August 7, 2014
Finally, Menemukan Asisten Rumah Tangga!
Pagi ini cukup hepi. Akhirnya kemarin gw & hubby mendapatkan Asisten Rumah Tangga (ART) juga setelah mencoba mencari cukup lama. Mbak Sum namanya. Asli dari Purwodadi.
Jadi ceritanya ini ART adalah sodara (keponakan) dari ART tetangganya mertua di Bintaro sono. Dulunya 'katanya' pengalaman kerja di Semarang, trus pengen ikutan kerja di Jakarta, jadilah dia ART kami.
Sekarang ini cari ART susahnya amit-amit. Selain karena banyak yang beranggapan kerjaan ART ini kurang bergengsi, juga banyaknya serbuan iming-iming jadi TKI oleh perusahaan penyalur jasa. Padahal ya, jadi TKI itu ga gampang, udah harus bayar buat perijinannya, pun banyak cerita para TKI ini (terutama TKW) mendapatkan siksaan yang luar biasa kejam dari majikannya. Yang aku heran, tetap aja tuh mereka tergoda iming-iming palsu begitu. Mungkin kesannya keren dan bergengsi kalau pulang ke kampung, ditanya kerja apa, jawabnya : "Gue kerja di Hongkong", atau : "Gue kerja di Arab". Pulang-pulang bisa renovasi rumah, dan lain-lain.
Tapi coba kalau mereka pikir baik-baik ya, jadi TKI itu sebenernya kebanyakan cuma karena pemerintah dapat devisa yang besar. Kalau mereka diperlakukan tidak manusiawi, emang pemerintah bisa langsung turun tangan? Kalau ngga masuk media, mana diurus sih? Belum termasuk yang pulang-pulang uda bawa anak. Ya keren sih, anaknya blasteran. Itu juga syukur-syukur kalau Bapaknya mengakui, kalo engga? Ya siap-siap besarin anak ga jelas aja.
Sedangkan kalau mereka kerja di negara asal (aka Indonesia), despite of pikiran mereka soal "ngga bergengsi", justru mereka masih bisa pulang rumah ngga perlu setahun sekali. Pun tiket ngga mahal-mahal banget. Anggap aja gaji mereka sekitar 1 juta, tapi tempat tinggal dan makanan uda ditanggung. Sekarang malah kebanyakan uang pulsa juga dikasih, min. 25 ribu adalah. Kalau expense mereka cuma ke shampoo/sabun or jajan, paling-paling sebulan abis 200 ribu. Masih bisa saving sekitar 800 ribu perbulan, dikali 12 bulan udah 9,6 juta. Kalau ditempat gw, malah dapat THR juga 1x gaji. Berarti total bisa 10,6 juta. Kan lumayan tuh. Ngurusin rumah doang, sementara gw & hubby kerja, dirumah cuma bersih-bersih, nyuci, setrika, masak (seadanya). Kalau kita ngantor, dia mah bebas nonton tv, denger radio, dll. Yang penting kami balik, rumah beres. Udah gitu doang. Enak kan?
Tapi ya seperti pepatah jawa : "awang sinawang". Kadang kita lihat sebenernya cukup oke, mungkin buat yang ngejalanin terasa berat. But that's a life. Semua pilihan pasti ada resikonya, tinggal kita yang tentukan, resiko mana yang lebih "worth to fight for".
Jadi ceritanya ini ART adalah sodara (keponakan) dari ART tetangganya mertua di Bintaro sono. Dulunya 'katanya' pengalaman kerja di Semarang, trus pengen ikutan kerja di Jakarta, jadilah dia ART kami.
Sekarang ini cari ART susahnya amit-amit. Selain karena banyak yang beranggapan kerjaan ART ini kurang bergengsi, juga banyaknya serbuan iming-iming jadi TKI oleh perusahaan penyalur jasa. Padahal ya, jadi TKI itu ga gampang, udah harus bayar buat perijinannya, pun banyak cerita para TKI ini (terutama TKW) mendapatkan siksaan yang luar biasa kejam dari majikannya. Yang aku heran, tetap aja tuh mereka tergoda iming-iming palsu begitu. Mungkin kesannya keren dan bergengsi kalau pulang ke kampung, ditanya kerja apa, jawabnya : "Gue kerja di Hongkong", atau : "Gue kerja di Arab". Pulang-pulang bisa renovasi rumah, dan lain-lain.
Tapi coba kalau mereka pikir baik-baik ya, jadi TKI itu sebenernya kebanyakan cuma karena pemerintah dapat devisa yang besar. Kalau mereka diperlakukan tidak manusiawi, emang pemerintah bisa langsung turun tangan? Kalau ngga masuk media, mana diurus sih? Belum termasuk yang pulang-pulang uda bawa anak. Ya keren sih, anaknya blasteran. Itu juga syukur-syukur kalau Bapaknya mengakui, kalo engga? Ya siap-siap besarin anak ga jelas aja.
Sedangkan kalau mereka kerja di negara asal (aka Indonesia), despite of pikiran mereka soal "ngga bergengsi", justru mereka masih bisa pulang rumah ngga perlu setahun sekali. Pun tiket ngga mahal-mahal banget. Anggap aja gaji mereka sekitar 1 juta, tapi tempat tinggal dan makanan uda ditanggung. Sekarang malah kebanyakan uang pulsa juga dikasih, min. 25 ribu adalah. Kalau expense mereka cuma ke shampoo/sabun or jajan, paling-paling sebulan abis 200 ribu. Masih bisa saving sekitar 800 ribu perbulan, dikali 12 bulan udah 9,6 juta. Kalau ditempat gw, malah dapat THR juga 1x gaji. Berarti total bisa 10,6 juta. Kan lumayan tuh. Ngurusin rumah doang, sementara gw & hubby kerja, dirumah cuma bersih-bersih, nyuci, setrika, masak (seadanya). Kalau kita ngantor, dia mah bebas nonton tv, denger radio, dll. Yang penting kami balik, rumah beres. Udah gitu doang. Enak kan?
Tapi ya seperti pepatah jawa : "awang sinawang". Kadang kita lihat sebenernya cukup oke, mungkin buat yang ngejalanin terasa berat. But that's a life. Semua pilihan pasti ada resikonya, tinggal kita yang tentukan, resiko mana yang lebih "worth to fight for".
July 7, 2014
Traveling ke Medan dan Berastagi part I
Minggu kemarin akhirnya gue ambil cuti 3 hari untuk memenuhi salah satu keinginan nyokap, jalan-jalan ke Medan, nak tengok teman nyokap yang uda dianggap sodara. Sempet ragu juga, secara gue pas banget lewat trimester pertama, 13 weeks!
Pas konsul ke dokter, hubby uda nanya-nanya, boleh apa ngga. As usual, the doctor only said : "Gak apa-apa itu". Emang sih dokter ane satu ini, baik sih, tapi santai pisan... hahaha...
Sempet ada perbedaan pendapat, katanya kalau lagi hamil trus jalan-jalan nyeberang pulau itu pamali. Jujur aja ane gak yakin, masalahnya belum pernah denger yang begituan. So demi my last traveling, gue coba searching-searching internet, ngga nemu juga statement pamali yang satu ini. Akhirnya sempet nanya juga ke sodara, ternyata pernah kok hamil gede juga kemana-mana, so far anaknya baik-baik aja. Jadi yakin deh, dengan doa dan lindungan Tuhan, everything's gonna be OK.
Untungnya saat berangkat, gue engga terserang morning sick, or whatever itu karena suka ga liat waktu kalau mual trus muntah. Sempat kepikir, kalo muntah-muntah di pesawat kan mana seru. Perjalanan Jakarta-Medan sekitar 2 jam, sempat kena delay di AA sekitar 40 menit, dan ga ada dikasih snack. Dasar Low Cost Airline, service pun ikutan low.
Sampai Medan ternyata cuaca panas, untungnya jemputan sudah tiba, jadi langsung ambil bagasi and lanjut ke Berastagi. Rencana memang hari pertama langsung ke Berastagi, dan sebenernya mau lanjut ke Danau Toba, tapi mengingat ke Toba perjalanannya jauh, terpaksa aku membatalkan diri dan menginap 2 hari di Berastagi. Hari pertama nginep di villa temennya koko, abis itu besoknya kita mencoba ke Simalem Resort di Merek, sekitar sejam dari Berastagi.
Simalem Resort sebenernya cukup oke, tapi masuknya aja 200.000 per mobil, dan karena pas bulan puasa, disana ngga ada yang jualan. Aneh juga sih, sebuah resort yang cenderung private, tetapi sarana akomodasi tidak lengkap. Kalau makan harus keluar resort, trus yang bawa mobil, kena charge lagi saat masuk, apa ngga aneh? Resortnya sih not bad, kamarnya banyak yang masih under construction, harga perkamar dari IDR 2.500.000,- dan ada diskon sesuai umur. Overall sih total kamar tetap aja IDR 1.500.000,- permalam. Pikir punya pikir, lebih baik menginap di Berastagi aja, lebih enak karena banyak makanan dan mini market, kalau-kalau memerlukan barang tertentu, setidaknya dekat kemana-mana.
Sekitar jam 1 siang, kita balik dari Simalem. Lapar melanda karena disana tidak disediakan makanan sama sekali, mampirlah kita di BPK terdekat di Kabanjahe. Lupa namanya, tapi BPK nya enak. Total jendral 6 piring BPK + 1 Saksang dan 3 BPK dibungkus, hanya 195ribu sajo. Disitu baru tau lah, ternyata BPK ada panggang putih (lemak) dan panggang merah (daging). Wuih mantap kali lah disana....
Perut kenyang hati bahagia, mampirlah kita ke Air Terjun Sipiso-Piso. Karena sore itu gerimis, lebih baik diputuskan untuk tidak turun ke bawah, takut terpleset, bisa berabe. Setelah berfoto-foto sebentar, pulanglah kita ke Berastagi.
Di Berastagi kita menginap di Mikie Holiday Resort. Kebetulan saat itu gerimis sepanjang sore sampai malam, alhasil cuaca jadi sangat-sangat dingin sekali. Mungkin dibawah 16 derajat, karena badan langsung menggigil begitu keluar kamar. Irit juga itu hotel, ngga perlu pakai AC lagi.
Fasilitas hotel cukup oke, restonya juga bagus. Tapi karena kita uda kekenyangan BPK, dan (lagi) masih bungkus 3 BPK, makan malam cukup dikamar saja. Nasi putih kita minta 3 bungkus, yang ternyata banyaknyo tidak kira-kira. Sebenarnya cukup 1 bungkus untuk berdua.
Paginya, sarapan di Azalea Resto - Mikie Holiday, menunya lengkap. Dari sayuran (capcay), nasgor, ayam, sampai ke bubur. Kalau mau scrambled egg dan sunny side juga ada. Bisa minum jus markisa sepuasnya (sirup markisa lebih tepatnya), enak kali lah... Puas menginap disitu. Sayang cuma semalam aja, siangnya kita uda harus check-out menuju Medan.
Siangnya setelah check out dari hotel, pergilah kita cari makan. Lagi-lagi mampir di BPK terdekat. Kebetulan ada BPK yang cukup ramai, yaitu Serasi Rasa. Lokasi nya cukup bersih, tidak seperti BPK sebelumnya. Kali ini kita makan dengan porsi 'normal'. Hahaha...
To be continued part 2
Subscribe to:
Comments (Atom)
My Newest Thought
Operasi Gigi Geraham Bungsu (Menggunakan BPJS 2020)
Hai semuanya, kali ini gue mau share tentang pengalaman gue operasi gigi geraham bungsu atas bawah, sebanyak 4 gigi. Yes, 4 gigi sekaligus! ...
-
Posting hari ini, gue kepengen share tentang salah satu produk NABAIJI, salah satu swimming brand dari Decathlon. Ini sambungan dari posting...
-
Artikel yang oke nih, buat yang masih lajang tentunya. KOMPAS.com — Jika Anda masih lajang, Anda pasti sudah berulang kali mendengar ...
-
Ga kerasa ternyata anak gw udah 4 bulan, besok awal Juni udah masuk 5 bulan. So far untuk ASI tidak ada masalah karena masih lancar, walaupu...







